Pada tahun 2023, dunia dikejutkan dengan berita yang cukup mengkhawatirkan di bidang keamanan siber. Sebanyak 17 miliar catatan pribadi terpapar dalam insiden kebocoran data, menurut Laporan Intelijen Ancaman Global Flashpoint 2024. Ini menandai peningkatan sebesar 34,5% dari tahun sebelumnya, dengan 6077 insiden kebocoran data yang dilaporkan secara publik. Informasi sensitif yang terlibat meliputi nama, nomor jaminan sosial, dan data keuangan.
.
Di Amerika Serikat sendiri, tercatat sebanyak 3804 insiden, yang merupakan 60% dari total kebocoran data global pada tahun tersebut. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar 19,8% dibandingkan dengan tahun 2022. Salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan insiden kebocoran data adalah serangan ransomware, yang mengalami peningkatan sebesar 84% dalam dokumentasi insiden pada tahun 2023.
.
Sektor yang paling banyak menjadi sasaran serangan ransomware adalah konstruksi dan teknik, diikuti oleh layanan profesional, perangkat lunak internet dan layanan, serta penyedia layanan kesehatan. Secara keseluruhan, ransomware dan akses tidak sah menyumbang 85% dari semua kebocoran data yang diungkapkan secara publik.
.
Di Indonesia, jumlah catatan yang terpapar dalam kebocoran data online pada kuartal pertama tahun 2023 mencapai sekitar 89.11 ribu catatan. Selain itu, terjadi pula insiden kebocoran data yang melibatkan lebih dari 34 juta pemegang paspor Indonesia, yang dilaporkan bocor oleh peretas yang menggunakan nama samaran Bjorka.
.
Laporan ini menyoroti pentingnya kesadaran dan tindakan pencegahan dalam menghadapi ancaman siber. Dengan jumlah kebocoran data yang terus meningkat, penting bagi individu dan organisasi untuk mengambil langkah-langkah keamanan yang lebih ketat dan memastikan bahwa data pribadi mereka dilindungi dengan baik.
sumber
.
Di Amerika Serikat sendiri, tercatat sebanyak 3804 insiden, yang merupakan 60% dari total kebocoran data global pada tahun tersebut. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar 19,8% dibandingkan dengan tahun 2022. Salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan insiden kebocoran data adalah serangan ransomware, yang mengalami peningkatan sebesar 84% dalam dokumentasi insiden pada tahun 2023.
.
Sektor yang paling banyak menjadi sasaran serangan ransomware adalah konstruksi dan teknik, diikuti oleh layanan profesional, perangkat lunak internet dan layanan, serta penyedia layanan kesehatan. Secara keseluruhan, ransomware dan akses tidak sah menyumbang 85% dari semua kebocoran data yang diungkapkan secara publik.
.
Di Indonesia, jumlah catatan yang terpapar dalam kebocoran data online pada kuartal pertama tahun 2023 mencapai sekitar 89.11 ribu catatan. Selain itu, terjadi pula insiden kebocoran data yang melibatkan lebih dari 34 juta pemegang paspor Indonesia, yang dilaporkan bocor oleh peretas yang menggunakan nama samaran Bjorka.
.
Laporan ini menyoroti pentingnya kesadaran dan tindakan pencegahan dalam menghadapi ancaman siber. Dengan jumlah kebocoran data yang terus meningkat, penting bagi individu dan organisasi untuk mengambil langkah-langkah keamanan yang lebih ketat dan memastikan bahwa data pribadi mereka dilindungi dengan baik.
sumber